Jumat, 12 Agustus 2011

Jiwa Pahlawan Para Pemuda


Mentari terbit dari upuk timur memancarkan energi  positif pada mahluk dimuka bumi, mengubah kegelapan malam menjadi hari yang terang benerang. Itulah hakikat mahluk Allah yang bernama matahari. Matahari selalu setia menemani bumi dan memancarkan cahayanya tanpa pamrih. Subhaballah begitu indah ciptaan Allah SWT.

Begitu juga dengan iman. Iman merupakan  pancara energi  jiwa yang membuat kita hidup lebih hidup, yang memberikan kekuatan untuk terus bergerak, mengobati jiwa-jiwa yang lelah, yang memberikan semangat juang untuk menggapai tujuan yang hakiki. Iman memberika inspirasi, menerangi jiwa-jiwa bagaikan matahari menerangi bumi dan menguatkan tekad untuk terus bergerak.
Syekh Hasan Al-Banna mengatakan, “kekalahan dunia merupakan kekalahan sementara sedangkan kekalahan moral/spiritual adalah kekalahan hakiki”.  Orang yang putus asa merupakan orang yang kalah spiritual, sehingga mereka berani naik tower setinggi 20 meter lalu menjatuhkan dirinya, ataukah orang yang terbang dari gedung lantai 10 namun mendarat dengan kepala terbalik diatas mobil zip, orang nekat meminum racun serangga sampai jantungnya menjadi keram untuk selamanya, yang lebih tragis lagi seorang anak SD yang tidak bisa membayar iuran sekolah nekat gantung diri sehingga dia berakhir di liang lahat. Namun yang lebih meringis ketika orang yang berduit (kaya) tewas akibat meminum minuman ‘aplusan’, minuman keras, dan narkoba. Itulah gambaran orang-orang yang telah kalah spiritualnya, mereka hanya mejadi sampah yang tinggal menunggu mobil angkutan sampah untuk mengangkutnya dan dibakar di api neraka. Naudzubillah himin dalik.
 Bila anda bertanya, siapa mereka? Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki iman didalam hatinya. Mereka hanya mementingkan dunia dan kepuasan semata, sehingga mereka terjerumus kedalam lubang hitam yang sangat dalam yang akhir lubang itu adalah neraka.
Iman merupakan bagian yang terpenting dalam diri kita, seseorang yang memiliki iman dalam hatinya selalu tegar menghadapi masalah, selalu tentram perasaannya, kuat tekad dan spiritualnya serta mau bergerak menuju perbaikan. Dalam buku menuju cahaya Anis Matta mengatakan ‘dengan iman orang kaya menjadi dermawan, orang miskin menjaga kehormatan dan harga dirinya, penguasa menjadi adil, orang kuat menjadi penyayang, orang pintar menjadi rendah hati dan orang bodoh menjadi pembelajar’.
Dengan modal iman seorang pemuda akan menjadi tangguh dan siap muncul kepermukaan, menyerahkan jiwa raganya untuk membangun peradaban umat. Dia rela meninggalkan kesenangan dunia sebagai mana dilakukan kebanyakan para pemuda lainya, mereka mengikat syahwat, syetan dan nafsu sekencang-kencangnya sehingga mereka terjaga dijalan yang lulus. Selalu memperbaiki diri dan terus bergerak menciptakan perubahan yang besar untuk umat di muka bumi ini. Sehingga mereka siap mejadi seorang pahlawan yang menorehkan tinta emas dalam kehidupannya.
Rosulullah saw adalah pahlawan yang hakiki, Beliau datang ketika zaman membutuhkan cahaya, ketika zaman dalam kehancuran dan kebobrokan moral, ketika zaman membutuhkan petunjuk, ketika zaman haus kekuasaan dan pertikaian. Kedatangan Rosulullah dengan petunjuk baru, cahaya baru, dan akhlak tauladan membuat perbahan yang ‘bom bastis’ -besar- sehingga umat terselamatkan dari zaman-zaman jahiliah. Seorang Khalid Bin Walid rela  meninggalkan perempuan cantik dimalam pengantinnya untuk berjihad (berperang) itu karena iman, sehingga dia menjadi pahlawan di medan jihad. bagaimana pula dengan Ali Bin Abu Tholib beliau rela menggantikan rosulullah tidur ketika tempat tidur Rosulullah di kepung para kaum kurais sehingga Ali menjadi pahlawannya.
Ketika Kostantinovel dikuasai selama 700 tahun oleh kaum kufar dan menantikan seorang pahlawan, lahirlah seorang  Muhammad Al-Fatih  yang baru berusia 23 tahun menjadi seorang panglima perang, sehingga konstantinovel dapat dikuasai oleh kaum muslimin, beliau adalah pahlawannya. Yang lebih dekat lagi, ketikan negara Indonesia dijajah selama 350 tahun oleh belanda dan 3,5 tahun oleh jepang sehingga merindukan kemerdekaan bangsa, keamanan, dan ketentraman, saat itu lahirlah Sukarno, Hatta, Agus Salim, dan pemuda-pemuda indonesia yang bertekad baja dan mereka menjadi pahlawannya.
Jiwa muda merupaka masa keemasan untuk berjuang. Presiden Pertama Indonesia Sukarno pernah mengatakan, “Berilah aku 10 orang pemuda akan ku ubah dunia”.  Begitu besarnya kekuatan pemuda, tombak yang di lemparkan mampu menembuk tumpukan baja yang berlapis-lapis. Pemuda palestina yang hanya berbekal batu dapat menewaskan puluhan tentara Israel yang lengkap persenjataan.
Namun kekuatan, kepintaran dan semangat pemuda harus dibarengi dengan iman yang terpatri dalam hatinya. Karena kekuatan tanpa iman akan menjadikan pemuda itu arogan, tawuran antar pemuda, perampokan dan preman semakin merebak. Ketika kepintaran tanpa iman, kepintaran akan berubah menjadi nafsu yang tak terpuaskan, korupsi semakin meraja rela, penipuan menjadi-jadi, dan ketika semangat tanpa iman akan mengubah gerak langkahnya menuju hal yang negatif
Benar yang dikatakan Muhammad Al-Fatih bahwa keberhasilan suatu perjuangan berkorelasi positif terhadap amalan keimanan kita. Satu hari sebelum penyerangan kekonstantinovel dikeheningan malam Muhammad Al-Fatih mengumpulkan semua pasukan dan membariskannya, Dia berkat “Barang siapa yang satu tahun ini pernah meninggalkan sholat wajib? Diharap untuk duduk.” Namun tidak ada dari pasukan yang duduk. Muhamma Al-Fatih melanjutkan pertanyaannya, “Barang siapa yang satu tahun ini tidak pernah puasa ramadhan walaupun  sehari? Diharap untuk duduk.” Semua pasukan tidak ada yang duduk. “Barang siapa yang satu tahun ini pernah menghatamkan tilawah lebih dari satu bulan? Diharap untuk duduk”. Mulai dari sini sebagian pasukan menangis dan duduk, namun masih sangat banyak pasukan yang berdiri. Muhammad Al-Fatih melanjutkan pertanyaanya, “Barang siapa yang satu tahun ini pernah kehilangan hapalannya? Diharap untuk duduk.” Semakin banyak pasukan yang duduk dan menangis, namun masih ada yang berdiri. Dan pertanyaan terakhir dari Muhammad Al-Fatih, “Barang siapa yang satu tahun ini pernah sya’ban? Diharap untuk duduk.” Dipertanyaan terakhir ini semua orang duduk namuan ada seorang yang masih berdiri beliau adalah Muhammad Al-Fatih sang panglima perang.
Saking pentingnya keadaan ruhaniah, sampai Muhammad Al-fatih menanyakan hal-hal ruhaniah sebelum memulai peperangan, hal ini menindikasikan bahwa keadaan ruhaniah kita akan berkorelasi dengan hasil-hasil dari perjuangan kita, karena Allah tidak hanya menilai hasil tetapi menilai proses, sehingga akan berhubungan langsung dengan yang menjalankan proses, yaitu kita.  “para pemuda.”
Rumus Sukses :
Manusia Baik + Proses Baik = Hasil Baik
Zaman sekarang, zaman yang serba sulit, zaman yang banyak bencana baik bencana alam maupun bencana spiritual. bencana alam, longsor, banjir, gagal panen, gempa dan lainya itu sudah kekentuan Allah. Namuan yang paling bahaya adalah bencana spiritual yaitu bobroknya moral bangsa, para pemimpin memiliki mata tetapi tidak dapat melihat apa yang diperlukan rakyatnya, memiliki telinga tetapi tidak mendengar apa yang diteriakan rakyat kecil. Orang kaya tetapi tidak dermawan pada sesamanya, orang pintar menjadi sombong, orang miskin menjadi membabi buta sehingga kejahatan marak terjadi di negeri ini.
Namun dari kesulitan-kesulitan, kebobrokan-kobobrokan lahirlah kita kedunia. Ketika seseorang ditakdirkan lahir di zaman kesulitan, sesungguhnya Allah memberikan peluang kepada kita untuk menorehkan tinta emas kepahlawanan. Sejarah mencatat tidak semua orang yang lahir kemuka bumi ini dicatat sebagai pahlawan. Tetapi yang tercatat adalah pemuda-pemuda yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar yang memberikan karya besar buat negeri ini.  Pekerjaan-pekerjaan besar, karya besar tidak terlahir dari orang-orang yang senang, yang hanya diam  dan tertidur ataupun orang yang putus asa, tetapi lahir dari oarang-orang yang memiliki keyakinan, semangat, cucuran keringat dan kontribusi yang besar.
Negeri ini membutuhkan generasi baru Yaitu generasi pembawa cahaya baru, semangat baru, kekuatan baru, penuh dengan rasa cinta, yang bisa membawa senyum, yang dapat merekatkan tanah yang retak,  yang bisa medamaikan orang yang sedang bertikai, yang membawa ketentraman, penuh persahabatan, jujur, adil, dan saling memaafkan serta generasi yang menciptakan karya-karya yang besar dan bermanfaat. Itulah generasi yang negeri ini butuhkan.
            Namun yang jadi pertanyaan, apakah generasi baru itu adalah KITA?
…Buktikan bahwa kita adalah pahlawannya….
Allahualam bisawab..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar